“Jadi, penanganan awal apabila terjadi bencana kebakaran, kita harapkan seluruh fungsi yang ada di rumah sakit ini dapat berperan dengan baik untuk menanggulangi kebakaran sejak awal,” kata Wahidin.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan menjadi hal penting karena rumah sakit merupakan fasilitas publik yang di dalamnya terdapat pasien, tenaga medis dan masyarakat lainnya.
“Ini penting sekali karena gedung ini adalah gedung publik. Di dalamnya ada pasien dan juga tim-tim medis. Tentu kita berupaya secara maksimal apabila terjadi bencana kebakaran, seluruh komponen yang ada dapat kita selamatkan,” jelasnya.
Ketua K3RS RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare, Muhammad Ishaq Nusu, S.Si., M.Si., Apt, menambahkan bahwa simulasi kebakaran merupakan program K3RS yang dilaksanakan setiap tahun.
Menurut Ishaq, potensi bencana dapat muncul kapan saja, baik akibat kondisi lingkungan maupun faktor human error. Karena itu, simulasi diperlukan agar seluruh unsur rumah sakit memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
“Kita tidak mengetahui cuaca dan kondisi. Hal-hal human error juga bisa menyebabkan terjadinya kebakaran atau bencana lainnya,” ujarnya.
Selain kebakaran, Ishaq menyebut pihaknya juga mengantisipasi potensi bencana lain mengingat lokasi rumah sakit yang berada di kawasan pesisir.
“Apalagi kita berada di tepi laut. Tsunami atau bencana lainnya bisa menyebabkan getaran. Karena itu, kita antisipasi dengan simulasi setiap tahun,” katanya.
Melalui pelatihan Code Red dan simulasi tersebut, pihak rumah sakit berharap seluruh staf memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing saat terjadi kondisi darurat, sehingga keselamatan pasien, tenaga medis, serta seluruh penghuni rumah sakit dapat lebih terjamin.(*)










