Tetapi angka ini masih jauh dari potensi sebenarnya, mengingat Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hingga mencapai 419 GW yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun dan kecepatan angin yang memadai di berbagai wilayah, menjadikan AEI sebagai solusi yang sangat relevan.
Implementasi AEI telah menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan petani di berbagai negara.
Studi dari Asian Development Bank mengungkapkan bahwa petani yang mengadopsi teknologi digital mengalami peningkatan pendapatan hingga 30% dibandingkan dengan petani konvensional.
Peningkatan ini terjadi karena AEI memungkinkan optimalisasi penggunaan sumber daya, pengurangan pemborosan energi, dan peningkatan kualitas hasil panen melalui monitoring real-time terhadap kondisi tanaman dan lingkungan yang lebih efisien dan terukur.
Indonesia telah memulail langkah awal dalam penerapan konsep serupa AEI melalui berbagai inisisatif teknologi pertanian.
Contoh konkret penerapan AEI dapat dilihat dari Agriculture War Room (AWR) yang dikembangkan oleh Balitbangtan Kementerian Pertanian.
AWR mengintegrasikan data pertanian real-time dari berbagai daerah melalui jaringan online dan citra satelit LAPAN, memungkinkan pengawasan serangan hama dan komunikasi efektif dalam mengidentifikasi masalah di lapangan hingga tingkat desa, seperti ynag terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, di mana pemerintah pusat dapat mengidentifikasi lokasi dan kondisi lapangan hingga tingkat desa untuk intervensi kebijakan yang tepat sasaran berdasarkan data real-time.
Di Jawa Timur, sistem smart farming berbasis komunitas telah dikembangkan dengan pendekatan Integrated Farming Systems (IFS) yang memanfaatkan teknologi digital seperti pemodelan cuaca dan analisis struktur tanah.
Sistem ini meningkatkan produktivitas tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan melalui sinergi digitalisasi dan energi terbarukan, sejalan dengan prinsip AEI.










